Pembuatan Dokumen Kependudukan, Masih Jauh dari Harapan

Ilustrasi Kartu Keluarga

Lupakanlah dulu sejenak tentang E-KTP. Karena di tempat Kami jangankan untuk menunggu hasilnya, jadwal untuk difoto pun belum jelas kabarnya hingga kini.  Yang ingin saya ceritakan kali ini adalah tentang dokumen kependudukan yang lain, yakni Kartu Keluarga (KK). Meskipun Kami hanya pindah tempat tinggal masih dalam satu area kelurahan yang sama, namun saya mencoba patuh pada aturan dengan membuat KK yang baru.

Dari awal pembuatannya saya sudah mencoba untuk melengkapi persyaratannya seperti: Surat Pengantar dari RT/RW, Kartu Keluarga Lama, Surat Nikah, Akta Kelahiran, dan Surat Keterangan Pindah bagi penduduk yang pindah antar kelurahan dalam wilayahnya. Harapannya tentu tidak akan ada data yang salah ketika sudah jadi nanti.

Namun yang terjadi benar-benar jauh dari harapan. KK tersebut baru selesai hampir 3 bulan kemudian. Padahal biaya yang diminta juga lebih tinggi dari tarif yang ditetapkan. Masih lumayan kalau datanya benar semua, nah kenyataannya data anggota keluarga masih ada yang salah! Nama anak bungsu saya  melenceng jauh dari Akta kelahirannya. Lalu apa gunanya persyaratan tadi, ya? Darimana referensi petugas kependudukan untuk menuliskan nama? Saya tidak habis pikir.

***

Setelah menerima Kartu Keluarga  yang salah itu saya melamun sejenak. Andai saja Negeri ini memiliki aplikasi (via Internet) yang memungkinkan kita bisa melakukan verifikasi data terlebih dahulu mungkin kekeliruan semacam ini bisa diminimalisir. Sebelum dicetak, draft KK tersebut harus ada persetujuan oleh penduduk yang mengajukan bahwa data yang ditulis dalam KK tersebut benar. Hal tersebut juga bisa dilakukan terhadap dokumen kependudukan lainnya.

Jikalau belum mampu menggunakan fasilitas teknologi, minimal ada sesi dimana kita diminta datang untuk melakukan verifikasi data, apakah sudah benar atau masih ada yang salah. Sayangnya harapan-harapan itu itu baru sebatas lamunan saja. Untuk menjadi kenyataan mungkin hanyalah “Ara yang tak bergetah” suatu hal yang mustahil terjadi untuk saat ini.

3 thoughts on “Pembuatan Dokumen Kependudukan, Masih Jauh dari Harapan

  1. saya teringat ketika dahulu dibuatkan KK, tentunya oleh Bapak. saya selalu melihat mengapa entah di lemari, di lukisan nama, di sendok, di piring, dan di tempat-tempat lain selalu ada nama saya dengan huruf akhir z, yang lebih membuat saya kaget, ternyata Om saya sebagai pemberi nama menyatakan bahwa nama saya sebenarnya terdiri dari lima kata. tapi di akta kelahiran, di kartu keluarga, mengapa hanya ada dua, dengan ejaan yang salah pula. kata orang tua, dulu untuk buat kk butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sehingga kesalahan itu menjadi bahan yang bisa diterima, daripada butuh waktu lama untuk memperbaikinya. satu yang dapat saya petik, dari dulu sampai sekarang sama aja masalahnya. entah pemohon yang kurang teliti dan kurang gesit serta kurang kritis, atau petugasnya yang berinisiatif tinggi untuk mengubah ajuan permohonan.

  2. iya… sudah 2x diperbaiki masih salah juga.. yg pertama, nama anak saya jadi anaknya ibu saya. yang ke dua, anak saya jelas perempuan, ini dicantumkan laki laki. dodol banget ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s