Gelas Beling atau Gelas Plastik

Sejak zaman masih ada KA Parahyangan salah satu ciri khas sajian minuman di kereta api, baik itu kopi atau teh adalah gelas beling lengkap dengan tatakan dan tutup aluminiumnya. Beberapa pekan yang lalu ketika saya menumpang lagi KA ternyata gelas beling sudah diubah dengan gelas dari plastik.

Gelas plastik pengganti gelas beling (foto: indra kh)

Mungkin penggantian tempat minuman tersebut termasuk ke dalam langkah strategis yang tengah diambil PT KAI untuk memperbaiki layanannya, selain perbaikan di aspek ticketing, atau kinerja SDMnya.

Memang gelas plastik punya nilai tambah, karena jika minumannya belum habis penumpang KA masih bisa membawanya saat turun dari kereta. Selain itu pihak PT KAI tidak usah repot-repot untuk mencucinya lagi. Gelas bekas penumpang tinggal dibuang ke tempat sampah.

Gelas beling tinggal cerita

Namun demikian saya melihatnya masih lebih baik kalau gelas minuman itu tidak diubah. Mengapa? Karena bila dilihat dari aspek kesehatan, penggunaan gelas plastik itu lebih berisiko dibandingkan gelas beling. Gelas dari bahan plastik dan stereofoam itu konon mengandung formalin dan styrene, yang merupakan bahan kimia berbahaya yang  bisa menyebabkan penyakit kanker.

Selain itu penggunaan gelas plastik malah menambah jumlah sampah. Dan sebaliknya penggunaan gelas beling justru bisa meminimalisir jumlah sampah, selain dari aspek kesehatan lebih baik dibandingkan penggunaan gelas plastik.

Usulan saya lebih baik kembali saja lagi ke penggunaan gelas beling, PT KAI🙂

One thought on “Gelas Beling atau Gelas Plastik

  1. Seolah praktis di muka, padahal akhirnya beban lingkungan bertambah.
    Secara bisnis, kalau warung hanya menyediakan Aqua botol beling, itu lebih gede marginnya ketimbang botol plastik. Warung hanya perlu tukar botol, dan resto bagus bisa jual air dalam botol beling seharga Rp 10.000. Tiga tahun lalu, saya “kulak” Frutea itu ternyata sebotol (tanpa nawar) sekitar Rp 1.100. Kalau saya jual Rp 3.500, untung saya gede setelah dipotong biaya es batu. Waktu itu bukan buat jualan sih, tapi beliin minuman sejumlah orang.🙂
    Bagaimana dengan air putih dalam botol beling? Hitungan margin terakgir saya belum tahu. Yang pasti harga botol plastik itu sebenarnya mahal. Dulu ketika Aqua botol plastik berharga Rp 1.000, komponen harga botol plastiknya bisa Rp 6.000 — mungkin karena bahannya juga.
    Kita selama ini agak diperingan oleh mekanisme daur ulang melalui mata rantai pemulung.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s