Bisnis Fanatisme

Kalau tidak mau disebut berjiwa oportunis, banyak orang Indonesia saya lihat memiliki naluri bisnis yang tinggi untuk membuat produk maupun jasa kreatif. Termasuk salah satunya dengan jalan memanfaatkan fanatisme orang. Fanatisme terhadap klub sepakbola misalnya.

Sudah bukan rahasia jika penggila bola di negeri ini sangat luar biasa. Dari mulai pertandingan tarkam, pertandingan nasional sekelas liga, hingga pertandingan persahabatan internasional penontonnya banyak. Hanya satu dua pertandingan saja yang sepi penonton.

Fanatisme ini ternyata menjadi peluang bagi sebagian orang untuk mendulang keuntungan. Yakni dengan menjual kaos tim sepakbola. Mau pilih kostum dalam negeri atau klub liga dunia? Mau yang asli hingga replika? Kostum KW yang level berapa pun ada sepertinya. Orang Indonesia memang salah satu peniru yang ulung.

Jangan heran jika kostum sepakbola dari mulai yang harga 10 ribuan hingga jutaan selalu ada peminatnya. Tinggal pilih, mau merogoh kocek dalam-dalam untuk kostum asli atau yang membayar murah untuk yang replika?

***

Selain fanatisme terhadap tim sepakbola, apalagi yang dimanfaatkan orang untuk berusaha? Partaikah? Entahlah, namun sepertinya asesoris untuk perhelatan politik itu hanya untuk waktu-waktu tertentu dan dilatarbelakangi kepentingan politik seseorang saja, sehingga ia rela mendanai.

Orang Indonesia memang banyak yang kreatif, sekaligus oportunis. Tak hanya fanatisme, kesulitan orang pun bisa dijadikan peluang untuk mencari rupiah. Mana contohnya kesulitan orang yang dimanfaatkan untuk meraup rupiah? Para pengganjal ban mobil di tanjakan Nagreg, Pak Ogah di persimpangan jalan, atau para pendorong mobil di kala banjir.

Selamat pagi !!🙂

6 thoughts on “Bisnis Fanatisme

  1. Oportunis? Pintar melihat peluang.

    Saya pikir karena uang tidak berputar merata mengakibatkan munculnya Pak Ogah di Jakarta. Ah Jakarta memang sudah terlalu sumpek. Nilai sosial pun bergeser.

    Kalau di Jogja, orang dengan cuma-cuma menyemprotkan air pada mobil yang lewat agar kacanya bisa bersih dari abu.

    za:
    Ada benarnya juga. Saya pikir memang mereka jadi oportunis juga karena tekanan hidup. Apapun dilakukan yang penting bisa jadi uang. Salah satu bukti rakyat kita belum sejahtera.

  2. fanatisme, hmmm…

    Jadi inget manajer tim biru di depan perwakilan supplier merchandise resmi, Bukannya membantu memberantas pembajakan, tapi malah minta ijin supaya para pembajak itu bisa menjual merchandise palsu dgn bebas.
    Kasihan cenah :))

    Hevi:
    Beruntunglah masih ada kepedulian dari manajemn. Da memang karunya kalau dilarang juga. Selain itu kasihan para peminat kostum tim biru yang tidak mampu untuk beli merchandise resmi yang mahal, tapi juga ingin gaya dan ingin memperlihatkan rasa memiliki timnya.

  3. Kalau mau usaha, memang harus berani mengambil risiko…yang penting berusaha terus dari berbagai cara…tentu saja, sesuai etika yang benar. Bisnis yang tanpa etika tak bertahan lama, karena kabar jelak dari mulut ke mulut akan membuat reputasinya dibicarakan orang lain dan taka dipercaya.

    • Mungkin bisnis tanpa etika bisa mendatangkan untung dengan cepat, tapi juga tak bertahan lama, setelah itu akan mendatangkan kerugian yang setimpal, dia tidak akan lagi dipercaya orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s